Selasa, 26 Juli 2016

Beda tukang foto & fotografer, pro,atau amatir


Mencoba menyimpulkan  :  Tukang foto &  Fotografer, Amatir & Profesional.

Sekilas profesi  diatas  terlihat sama, dan  tidak terlihat perbedaan yang  menonjol, karena sama2  memegang kamera , dan sama –sama suka memotret . Bisa juga hal ini dianalogikan dengan profesii  Tukang batu dan Arsitek  yang sama-sama bergelut  dengan batu, bata, pasir, semen,  dll. Yang profesinya indentik dengan mendirikan sebuah bangunan. Contoh . . .   ada klien yang pengen dibuatkan kamar mandi / kandang ayam, sama sama butuh jasa seorang tukang batu, tapi kalau kliennya sudah minta dibuatkan Hotel,  Apartement atau Restaurant, apa hanya cukup hanya dengan jasa seorang Tukang batu, Tentu saja  tidak,Yang dibutuhkan adalah Jasa Arsitek karena hanya dia yang mampu merancang / mengkonsep sebuah ide dan gagasan menjadi nyata, tanpa menghilangkan unsur eksestika, keindahan dan kekuatan keselamatan penghuni hotel / atau restaurant.  Demikian halnya dengan topic bahasan kita saat ini, kalau hanya memotret Dokumentasi biasa Ulang tahun atau pas foto, Tidak harus kelas fotografer yang memotret, cukup tukang foto. Kecuali  untuk pembuatan company profile, foto iklan, Brosure,  Annual report, barulah kelas Fotografer yang dibutuhkan,  fotografer bisa mengerjakan pekerjaan tukang foto sedangkan tukang foto belum tentu bisa mengerjakan pekerjaan fotografer, Pendekatan Seni berbahasa visual lebih dominan dipergunakan oleh seorang fotografer dibandingkan dengan Tukang foto yang pendekatannya lebih banyak ke dokumentasi event semata. Walaupun disisi yang lain ada pendapat bahwa, Pada dasarnya istilah tukang foto dan fotografer sama saja yaitu orang yang ahli dalam membuat foto. Tapi istilah tukang foto lambat laun menjadi menurun nilainya, sedangkan titel fotografer semakin keren dewasa ini. Dulu seseorang disebut tukang foto (kadang disebut juga kameramen), adalah orang yang menguasai teknik fotografi yang baik, tapi sekarang ini, tukang foto identik dengan orang-orang yang sekedar bisa mengunakan kamera dan tidak harus ahli di dalam bidangnya, apalagi di era digital yang serba otomatis, tinggal jepret pakai lampu kilat saja langsung, pasti terang gambarnya. Tukang foto juga lebih identik dengan orang-orang yang menjajakan jasa foto dengan tarif relatif murah, seperti yang kita lihat di kawasan wisata ataupun tukang foto di acara-acara sosial seperti pernikahan.  ( Enche Tjin on April 27, 2011 ).
Beberapa hal yang sering digunakan, fotografer sebagai bahasa visual.

Management file dari berbagai media, ( harus tersimpan aman / rapi ).
 







Film negatif warna, " ke pasar " 1996.


    " ke pasar " menjual hasil panen, Pasar tradisional desa Jetak, Sukapura, Bromo
    ( original, scan negatif film 1997 )



Film postif / slide " belajar sembahyang " 1994


" belajr sembahyang " Pura desa Ngadas, Sukapura, Bromo.
 ( Original, Scan dari Film Slide 1994 )

            Kuat dalam ide cerita / pesan.
Menguasai hampir semua tehnik fotografi / salah satu tehnik fotografi 
            Selalu ada POI, disetiap fotonya
Isi foto lebih mudah dipahami.
Selalu ada unsur berlawanan dalam sebuah foto
Lebih banyak menampilkan pictorial photography. 
Penggunaan DOP yang tepat
Menampilkan kesederhanaan / simple.


Ada hakekat dasar sebuah keilmuan ketika seseorang baru belajar dan  mempelajari sebuah buku  dan membacanya,  dia akan merasa cukup dan pandai, tapi ketika dia mempelajari lebih dalam tentang sebuah ilmu . . . dia akan merasa kecil, merasa kurang pandai, dan akan terus belajar.
Bisa juga analogi ini juga berlaku didunia amatir dan professional.
Amatir biasanya mencoba mengatasi masalah ketidakmampuannya dengan selalu membeli kamera dan lensa baru. Harapan mereka mainan baru tersebut dapat menolong / mengatasi kekurangan teknik dan seni mereka dengan cepat.
Pro menyadari peralatan yang sesuai saja tidak cukup, seni dan teknik lebih penting untuk terus dipelajari dan diasah

 Amatir :
  • Sering teralihkan perhatiannya (distracted), hasil foto tidak konsisten dan biasanya tergantung mood
  • Membutuhkan pengakuan dari kelompok, teman atas hasil karyanya
  • Takut fotonya kurang bagus/kurang diterima, takut terlalu bagus sehingga dikritik atau dikucilkan
  • Berusaha mencari jalan pintas supaya fotonya bagus, salah satunya dengan membeli alat fotografi yang mahal
  • Saat menemukan rintangan, amatir cepat menyerah dan berhenti
   
 Bromo other side, Natinal Park Bromo Tengger Semeru. East Java, INDONESIA.

Profesinal :
  • Melihat segala sesuatu lebih detail.
  • Management file foto yang bagus.
  • Berkonsentrasi tinggi, rutin praktik
  • Cepat beradaptasi dengan lingkungan
  • Mementingkan kedalaman suatu foto/cerita.
  • Konsisten menghasilkan karya yang baik
  • Siap dan bersedia untuk menempuh jalan yang sulit dengan tujuan mendapatkan hasil foto yang bagus
  • Mendapatkan banyak rintangan tapi tidak cepat mundur dan putus asa
  • Selalu mau belajar & up date, terhadap perubahan.
  • Pandai melakukan pendekatan kesubyek foto.
  • Hasil foto yang berbeda.
  • Wawasan fotografinya luas, tidak terjebak dalam satu genre..
  • Mampu dalam menterjemahkan dan bercerita dalam bahasa visual.
Amatir akan merasa cukup mampu memotret, sehingga tidak perlu belajar lagi.
Profesional akan terus belajar, karena merasa masih kurang mampu memotret.
( Pro selalu beranggapan, pengalaman dan jam terbang = guru terbaik )