Kamis, 02 Januari 2014

[ KLIK! ] MENGABADIKAN MOMENTUM SATU DETIK

Sore hari, 10 Juli 1949. Panglima Besar Jenderal Soedirman mendatangi Gedung Agung Jogjakarta yang kala itu dijadikan istana negara darurat. Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta sudah menunggu sang panglima di beranda gedung. Mengenakan blangkon dan mantel panjang hitam serta menggenggam tongkat di tangan kiri, Panglima Soedirman berdiri dengan canggung di depan beranda. Soedirman sedang kecewa kepada Soekarno dan Hatta.  Sebagai panglima tentara Soedirman memutuskan terus bergerilya melawan agresi militer Belanda, sementara Soekarno-Hatta justru memilih jalur diplomasi yang tak disukai kelompok militer.
Kecewa Soedirman kepada Soekarno dan Hatta membuat langkah kakinya berat untuk masuk menemui dua karibnya itu. Soekarno mengalah. Ia berdiri lalu mendatangi Soedirman, merangkul badan sang jenderal yang kurus dan mulai sakit-sakitan. Saat memeluk Soedirman, mata Soekarno menangkap sosok Frans Sumardjo Mendur, fotografer IPPHOS yang sedang memegang kamera. “Momennya dapat tidak,” tanya Soekarno kepada Frans. “Terlalu cepat,” Frans menjawab sambil menggeleng. “Kalau begitu, diulang adegan zoentjes-nya, pinta Bung Karno. Soekarno kembali memeluk Soerdirman, dan Frans Mendur dengan sigap memotretnya. Klik!
Puluhan tahun kemudian, foto Presiden Soekarno memeluk Jenderal Soedirman itu muncul di buku-buku sejarah yang kita pelajari di sekolah-sekolah. Soekarno menyadari kekuatan fotografi dan memanfaatkan kesempatan langka bersama Jenderal Soedirman. Momentum itu sengaja diabadikan oleh Soekarno untuk memunculkan kesan bahwa tidak ada friksi di antara militer dan pemerintah sipil kala itu. Tidak ada pertentangan antara dirinya dengan Panglima Soedirman.

Ilustrasi kisah ini menggambarkan betapa pentingnya pengaruh fotografi. Waktu tidak pernah bisa kembali, begitu juga momentum. Kelahiran fotografi,dalam sejarah peradaban manusia, pada mulanya adalah usaha untuk mengawetkan ingatan tentang peristiwa-peristiwa,agar tidak menguap begitu saja. Kinerja kamera diciptakan sedemikian rupa untuk mengabadikan momentum dan menghentikan waktu, meski hanya dalam satu detik:Klik!

M Said K untuk Hendhy T Purnomo

candid dalam sebuah foto