Rabu, 12 November 2014

Sejarah Kamera

[ CHAPTER 2 ]
SEJARAH KAMERA

Dalam sejarah kamera, obscura sering disebut sebagai nenek moyang kamera. Prinsip kamera yang dipakai dalam obscura pertama kali ditemukan oleh ilmuwan kelahiran Basra Irak, Ibn al Haytham. Dalam karyanya,Book of Optics, al Haytham menjelaskan tentang pemakaian lubang jarum dan lensa dalam di dinding ruangan gelap untuk memproyeksikan apa yang ada di luar ke dalam ruangan dengan gambar terbalik. Obscura sendiri dalam bahasa Latin berarti ruangan gelap. Meski prinsip kamera sudah ditemukan pada waktu itu tetapi hasilnya belum bisa dicetak seperti pada saat ini.
Pada 1660, seorang ilmuwan Inggris, Robert Boyle dibantu oleh Robert Hooke berhasil menciptakan kamera obscura jinjing lebih kecil dari kamera obscura ciptaan al Haytham yang berukuran besar.
Pada tahun 1685, Johann Zahn menyempurnakan kamera obscura menjadi lebih kecil dan mudah dibawa. Zahn juga menambahkan cermin dan lensa untuk memfokuskan gambar.
Gbr 1 Prinsip kerja kamera Obscura












Gbr 2 Kamera Obscura yang diklaim sebagai kamera pertama





Gbr 3 Cara menggunakan kamera Obscura









Sebuah pengantar Fotografi

[ CHAPTER 1 ]
FOTOGRAFI:
SEBUAH PENGANTAR

Dalam jagad seni rupa, fotografi adalah proses pembuatan lukisan dengan media cahaya. Secara etimologi fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar dari suatu objek dengan  merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut, pada media yang peka cahaya.Prinsip fotografi adalah memfokuskan cahaya dengan bantuan pembiasan sehingga mampu membakar medium penangkap cahaya. Medium yang telah dibakar dengan luminitas cahaya yang tepat akan menghasilkan bayangan identik dengan cahaya yang memasuki medium pembiasan (yang kita kenal dengan sebutan: lensa). Untuk menghasilkan ukuran cahaya yang tepat menghasilkan bayangan, digunakan bantuan alat ukur cahaya (lightmeter). Setelah mendapat ukuran cahaya yang tepat, seorang fotografer bisa mengatur cahaya tersebut dengan mengatur ASA (ISO Speed), diafragma (aperture) dan speed pada kamera.
Kemajuan teknologi dari hari ke hari semakin memudahkan proses kerja manusia, termasuk dalam urusan fotografi. Revolusi digital yang mengubah hampir semua perangkat elektronik dari analog menjadi digital, mempengaruhi teknologi kamera secara luar biasa. Proses foto yang sebelumnya agak rumit dan membutuhkan waktu lebih lama, sekarang bisa dikerjakan dengan cepat dan mudah. Satu hal yang pasti, teknologi juga mengubah cara kerja fotografer menjadi lebih mekanis dan digitalized.
Berbagai kemudahan yang tersedia dalam sistem operasi kamera digital memang bisa mempermudah kerja teknis seorang fotografer, namun ketajaman visi how to take better picture mustahil didapatkan tanpa latihan dan belajar secara terus menerus. Hanya dengan praktik dan latihan konsisten kita bisa mendapatkan pengetahuan yang oleh maestro senirupa Leonardo da Vinci disebut sebagai “ilmu melihat” atau the art of seeing. Ilmu melihat inilah yang konon menjadi pengetahuan dasar dari fotografi. Rahasianya adalah: melihatlah seperti mata para pelukis melihat.
Sebelum memahami the art of seeing dan melatih kepekaan terhadap realitas sebagai objek fotografi, ada baiknya kita memahami diri sendiri: Dengan kamera di tangan, apa yang ingin kita lakukan dan dapatkan? Jawaban atas pertanyaan sederhana ini akan menjadi semacam guidance untuk menekuni fotografi secara lebih serius. Memahami tujuan dan arah diri sendiri sangat penting agar kita tidak perlu membuang energi karena melakukan aksi jepret sana-sini yang sia-sia tanpa tujuan. Para pemula di bidang fotografi sebaiknya mengetahui apa alasan utama: Mengapa anda ingin foto? Dan apa yang ingin anda foto? Sebab, dua jawaban atas dua pertanyaan inilah yang nanti akan menentukan bagaimana anda mengambil foto.
`Secara sederhana kita bisa melihat ada beberapa motif yang mendorong seseorang untuk melibatkan diri dalam dunia fotografi, antara lain:

A.      Untuk memperoleh rekaman peristiwa
Dalam kategori ini kita bisa menyebut contoh: foto-foto perkawinan, ulang tahun, foto pesta, foto upacara, atau dokumentasi foto keluarga yang kemungkinan hanya menarik dan menjadi konsumsi anggota keluarga bersangkutan serta relasi-relasi dekat. Untuk kepentingan ini, yang dibutuhkan hanyalah keterampilan teknis dasar fotografi saja. Secara teknis hal itu sudah cukup memadai.     
                                
B.      Bahan informasi atau berita
Salah satu contohnya adalah foto berita dan foto jurnalistik. Untuk kategori ini dibutuhkan usaha yang lebih dari sekedar menguasai keterampilan teknis dasar fotografi. Foto-foto berita haruslah “foto yang berbicara”karena dalam konteks ini sebuah gambar bisa lebih bernilai dibanding ribuan kata.

C.      Sebagai data pelengkap
Dalam banyak hal kita sering membutuhkan foto sebagai data pelengkap dalam dokumen atau kertas kerja. Di sini foto berperan untuk meningkatkan ketajaman pengutaraan dan kejelasan sebuah deskripsi. Misalnya: foto dalam proposal proyek.

D.     Untuk keperluan promosi
Fotografi berperan sangat penting dalam perkembangan dunia advertising. Foto dalam iklan, brosur produk, leaflet, kalender, poster, atau profil wahana wisata menjadi daya pikat tersendiriuntuk ditonjolkan dalam media promosi. Foto yang digunakan untuk keperluan promosi harus dibuat semenarik mungkin mengingat fungsi dan tujuannya. Ada kalanya, untuk beberapa kepentingan, foto dibuat sedemikian rupa sehingga lebih indah dari warna aslinya.

E.      Sekedar hobi dan bersenang-senang
Fotografi dalam hal ini hanya menjadi kesenangan pribadi. Tidak ada target-target khusus yang hendak dicapai. Hanya menjadi Kebutuhan yang bersifat pribadi sekali. Tingkat keseriusannya sangat tergantung pada masing-masing individu.


F.      Media ekspresi
Fotografi juga bisa menjadi media untuk mengekspresikan diri. Dengan kamera, hampir setiap objek dapat disajikan kembali dalam seribu satu  hasil yang berbeda pada waktu relatif singkat.Masing-masing dapat mengungkapkan kesan pribadi yang berlainan.
Dengan berbagai motif seperti yang sudah disebutkan di atas, kita tinggal memilih apa yang hendak kita capai dari aktivitas fotografi yang kita kerjakan. Untuk kepentingan dokumentatif, ilustratif, atau interpretatif?
Apapun tujuan dan kepentingannya, sebuah foto dapat dinilai dari tiga hal yang utama: teknik (keterampilan menggunakan alat/kamera), artistik (nilai keindahan yang dapat ditampilkan), dan isi (arti/makna/cerita/kesan yang diungkapkan)

Kadar setiap unsur nilai berbeda, tergantung sifat dan tujuan untuk apa foto itu dibuat.

Foto Dokumentatif
Foto dokumentatif tidak terlalu membutuhkan citarasa keindahan yang tinggi. Sebab, arah objek fotonya sangat terbatas, hanya berkaitan dengan apa atau siapa yang ingin didokumentasikan. Jenis foto ini juga tidak terlalu mementingakan isi atau pesan (dalam artian fotografis) yang terkandung di dalamnya.
Hal utama yang paling menentukan adalah penerapan teknik yang tepat!
Mampu  menghasilkan foto yang jelas dan terang, diusahakan tampak seperti apa adanya. Hasil terbaik dalam proses pengambilan gambar (foto) dokumentatif dimulai dari menguasai dan memperhatikan hal-hal yang paling primer, seperti:

§         Memanfaatkan bidang film/frameseefektif  mungkin
§         Menghindari benda-benda yang dapat mengganggu di sekeliling danbackground objek foto.
§         Mengusahakan agar garis –garis vertikal dalam objek foto terekam dan tersajikan tetap secara vertikal.
§         Menghindari bidang miring untuk objek horizontal
§         Hindari gambar objek bertumpuk satu sama lain: jangan biarkan ada cabang pohon  mencuat dari kepala objek anda atau beberapa bidang yang akan menggangu objek secara umum.
§         Jangan sembarang potong, sajikan obyek dalam bentuk “ utuh” .

Hanya itu! Maka, foto anda sudah boleh dikatakan baik dan menarik (untuk orang-orang yang ada sangkut pautnya dengan foto dokumentasi tersebut). Jika anda bisa menambahkan unsur artistik dan isi pesan dalam foto dokumentasi, maka hasilnya akan menjadi makin luar biasa. 
                                                           
Foto Ilustratif
Foto jenis ini memiliki arah lingkup yang lebih luas dan untuk konsumsi  publik secara umum. Misalnya, foto-foto yang terpampang di majalah hiburan, brosur pariwisata, brosur promosi dan lain-lain. Dengan demikian, tuntutan persyaratan foto yang baik menjadi lebih berat. Di sinilah kreativitasseorang  fotografer mulai diuji.
Ketepatan penerapan teknik untuk menghasilkan foto yang jelas, terang, tajam, serta cemerlang belum cukup untuk membuat foto ilustratif menjadi benar-benar menarik. Jurus-jurus dasar (primer) seperti yang digunakan dalam foto dokumentatiftidak lagi mempan dalam proses pengambilan foto ilustratif.
Isi adalah bagian penting di sini!Isi dapat berupa kesan, pesan, emosi (getaran hati), harapan, persuasi untuk menikmati atau membeli sesuatu. Untuk mencapai tujuan itu, seorang fotografer harus:

§         Menempatkan unsur artistika dalam porsi yang lebih besar .
§         Mulai memegang dan menerapkan hukum-hukum komposisi
§         Mencari teknik-teknik khusus
§         Mempertimbangkan cara penyajian foto

Foto Interpretatif
Foto jenis ini umumnya merupakan ekspresi diri seorang pemotret, bisa juga dikatakan  sebagai ungkapan jiwa. Dengan demikian, perhatian utamanya  terletak pada isi/pesan  yang boleh jadi berupa ungkapan perasaan terhadap sesuatu hal atau peristiwa. Bisa juga pandangan, buah pikiran, dan lain sebagainya.
Untuk mencapai hasil yang efektif sering kita jumpai norma-norma artistika yang  dilanggar atau dikorbankan. Begitu juga dengan hal-hal teknis yang dimanipulasi sedemikian rupa untuk mencapai  hasil atau pengaruh  efek yang maksimal. Tidak jarang kita temui sebuah foto yang sengaja  dibuat tanpa ada bagaian  yang tajam dan terang, semuanya kabur, remang-remang, suram, untuk  mengungkapkan, misalnya, kemuraman atau misteri. Kerja seni memang sering begitu.
Dari uraian di atas diharapkan sudah mulai terbentuk gambaran nyata tentang arah dan tujuan yang ingin kita capai dalam dunia fotografi. Arah dan tujuan ini akan menentukan kadar usaha yang diperlukan  untuk mencapainya tujuan-tujuan tersebut.