[ CHAPTER 1 ]
FOTOGRAFI:
SEBUAH PENGANTAR
Dalam
jagad seni rupa, fotografi adalah proses pembuatan lukisan dengan media cahaya.
Secara etimologi fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar
dari suatu objek dengan merekam pantulan
cahaya yang mengenai obyek tersebut, pada media yang peka cahaya.Prinsip fotografi
adalah memfokuskan cahaya dengan bantuan pembiasan sehingga mampu membakar
medium penangkap cahaya. Medium yang telah dibakar dengan luminitas cahaya yang
tepat akan menghasilkan bayangan identik dengan cahaya yang memasuki medium
pembiasan (yang kita kenal dengan sebutan: lensa). Untuk menghasilkan ukuran
cahaya yang tepat menghasilkan bayangan, digunakan bantuan alat ukur cahaya (lightmeter). Setelah mendapat ukuran cahaya yang
tepat, seorang fotografer bisa mengatur cahaya tersebut dengan mengatur ASA
(ISO Speed), diafragma (aperture) dan
speed pada kamera.
Kemajuan teknologi dari hari ke hari semakin memudahkan proses kerja
manusia, termasuk dalam urusan fotografi. Revolusi digital yang mengubah hampir
semua perangkat elektronik dari analog menjadi digital, mempengaruhi teknologi
kamera secara luar biasa. Proses foto yang sebelumnya agak rumit dan membutuhkan
waktu lebih lama, sekarang bisa dikerjakan dengan cepat dan mudah. Satu hal
yang pasti, teknologi juga mengubah cara kerja fotografer menjadi lebih mekanis
dan digitalized.
Berbagai kemudahan yang tersedia dalam sistem operasi kamera digital memang
bisa mempermudah kerja teknis seorang fotografer, namun ketajaman visi how to take better picture mustahil
didapatkan tanpa latihan dan belajar secara terus menerus. Hanya dengan praktik
dan latihan konsisten kita bisa mendapatkan pengetahuan yang oleh maestro senirupa
Leonardo da Vinci disebut sebagai “ilmu melihat” atau the art of seeing. Ilmu melihat inilah yang konon
menjadi pengetahuan dasar dari fotografi. Rahasianya adalah: melihatlah
seperti mata para pelukis melihat.
Sebelum
memahami the art of seeing dan
melatih kepekaan terhadap realitas sebagai objek fotografi, ada baiknya kita
memahami diri sendiri: Dengan kamera di tangan, apa yang ingin kita lakukan dan
dapatkan? Jawaban atas pertanyaan
sederhana ini akan menjadi semacam guidance
untuk menekuni fotografi secara lebih serius. Memahami
tujuan dan arah diri sendiri sangat penting agar kita tidak perlu membuang
energi karena melakukan aksi jepret sana-sini yang sia-sia tanpa tujuan. Para
pemula di bidang fotografi sebaiknya mengetahui apa alasan utama: Mengapa anda
ingin foto? Dan apa yang ingin anda foto? Sebab, dua jawaban atas dua
pertanyaan inilah yang nanti akan menentukan bagaimana anda mengambil foto.
`Secara
sederhana kita bisa melihat ada beberapa motif yang mendorong seseorang untuk
melibatkan diri dalam dunia fotografi, antara lain:
A. Untuk memperoleh rekaman peristiwa
Dalam kategori ini kita
bisa menyebut contoh: foto-foto perkawinan, ulang tahun, foto pesta, foto
upacara, atau dokumentasi foto keluarga yang kemungkinan hanya menarik dan
menjadi konsumsi anggota keluarga bersangkutan serta relasi-relasi dekat. Untuk
kepentingan ini, yang dibutuhkan hanyalah keterampilan teknis dasar fotografi saja.
Secara
teknis hal itu sudah cukup memadai.
B. Bahan informasi atau berita
Salah satu contohnya
adalah foto berita dan foto jurnalistik. Untuk
kategori ini dibutuhkan usaha yang lebih dari sekedar menguasai keterampilan
teknis dasar fotografi. Foto-foto berita haruslah “foto yang berbicara”karena
dalam konteks ini sebuah gambar bisa lebih bernilai dibanding ribuan kata.
C. Sebagai data pelengkap
Dalam
banyak hal kita sering membutuhkan foto sebagai data pelengkap dalam dokumen
atau kertas kerja. Di sini foto berperan untuk meningkatkan ketajaman
pengutaraan dan kejelasan sebuah deskripsi. Misalnya: foto dalam proposal
proyek.
D. Untuk keperluan promosi
Fotografi
berperan sangat penting dalam perkembangan dunia advertising. Foto dalam iklan,
brosur produk, leaflet, kalender, poster, atau profil wahana wisata menjadi
daya pikat tersendiriuntuk ditonjolkan dalam media promosi. Foto yang digunakan
untuk keperluan promosi harus dibuat semenarik mungkin mengingat fungsi dan
tujuannya. Ada kalanya, untuk beberapa kepentingan, foto dibuat sedemikian rupa
sehingga lebih indah dari warna aslinya.
E. Sekedar hobi dan bersenang-senang
Fotografi
dalam hal ini hanya menjadi kesenangan pribadi. Tidak ada target-target khusus yang
hendak dicapai. Hanya menjadi Kebutuhan yang bersifat pribadi sekali. Tingkat keseriusannya
sangat tergantung pada masing-masing individu.
F. Media ekspresi
Fotografi juga
bisa menjadi media untuk mengekspresikan diri. Dengan kamera, hampir setiap objek
dapat disajikan kembali dalam seribu satu
hasil yang berbeda pada waktu relatif singkat.Masing-masing dapat
mengungkapkan kesan pribadi yang berlainan.
Dengan
berbagai motif seperti yang sudah disebutkan di atas, kita tinggal memilih apa
yang hendak kita capai dari aktivitas fotografi yang kita kerjakan. Untuk
kepentingan dokumentatif, ilustratif, atau interpretatif?
Apapun tujuan
dan kepentingannya, sebuah foto dapat dinilai dari tiga hal yang utama: teknik
(keterampilan menggunakan alat/kamera), artistik (nilai keindahan yang dapat
ditampilkan), dan isi (arti/makna/cerita/kesan yang diungkapkan)
Kadar setiap unsur nilai berbeda, tergantung sifat dan tujuan untuk apa
foto itu dibuat.
Foto Dokumentatif
Foto
dokumentatif tidak terlalu membutuhkan citarasa keindahan yang tinggi. Sebab, arah
objek fotonya sangat terbatas, hanya berkaitan dengan apa atau siapa yang ingin
didokumentasikan. Jenis foto ini juga tidak terlalu mementingakan isi atau
pesan (dalam artian fotografis) yang terkandung di dalamnya.
Hal
utama yang paling menentukan adalah penerapan teknik yang tepat!
Mampu menghasilkan foto yang jelas dan terang,
diusahakan tampak seperti apa adanya. Hasil terbaik dalam proses pengambilan gambar (foto)
dokumentatif dimulai dari menguasai dan memperhatikan hal-hal yang paling
primer, seperti:
§
Memanfaatkan bidang film/frameseefektif mungkin
§
Menghindari benda-benda yang dapat mengganggu di
sekeliling danbackground objek foto.
§
Mengusahakan agar garis –garis vertikal dalam objek
foto terekam dan tersajikan tetap secara vertikal.
§
Menghindari bidang miring untuk objek horizontal
§
Hindari gambar objek bertumpuk satu sama lain:
jangan biarkan ada cabang pohon mencuat
dari kepala objek anda atau beberapa bidang yang akan menggangu objek secara
umum.
§
Jangan sembarang potong, sajikan obyek dalam bentuk
“ utuh” .
Hanya itu! Maka, foto anda sudah boleh dikatakan baik
dan menarik (untuk orang-orang yang ada sangkut pautnya dengan foto dokumentasi
tersebut). Jika anda bisa
menambahkan unsur artistik dan isi pesan dalam foto dokumentasi, maka hasilnya
akan menjadi makin luar biasa.
Foto Ilustratif
Foto jenis ini memiliki arah
lingkup yang lebih luas dan untuk konsumsi
publik secara umum. Misalnya, foto-foto yang terpampang di majalah
hiburan, brosur pariwisata, brosur promosi dan lain-lain. Dengan demikian,
tuntutan persyaratan foto yang baik menjadi lebih berat. Di sinilah
kreativitasseorang fotografer mulai
diuji.
Ketepatan penerapan teknik
untuk menghasilkan foto yang jelas, terang, tajam, serta cemerlang belum cukup
untuk membuat foto ilustratif menjadi benar-benar menarik. Jurus-jurus dasar
(primer) seperti yang digunakan dalam foto dokumentatiftidak lagi mempan dalam
proses pengambilan foto ilustratif.
Isi adalah bagian penting di
sini!Isi dapat berupa kesan, pesan, emosi (getaran hati), harapan, persuasi
untuk menikmati atau membeli sesuatu. Untuk mencapai tujuan itu, seorang fotografer harus:
§
Menempatkan
unsur artistika dalam porsi yang lebih besar .
§
Mulai memegang dan menerapkan hukum-hukum
komposisi
§
Mencari teknik-teknik khusus
§
Mempertimbangkan cara penyajian foto
Foto Interpretatif
Foto
jenis ini umumnya merupakan ekspresi diri seorang pemotret, bisa juga dikatakan sebagai ungkapan jiwa. Dengan demikian, perhatian
utamanya terletak pada isi/pesan yang boleh jadi berupa ungkapan perasaan
terhadap sesuatu hal atau peristiwa. Bisa juga pandangan, buah pikiran, dan lain
sebagainya.
Untuk
mencapai hasil yang efektif sering kita jumpai norma-norma artistika yang dilanggar atau dikorbankan. Begitu juga
dengan hal-hal teknis yang dimanipulasi sedemikian rupa untuk mencapai hasil atau pengaruh efek yang maksimal. Tidak jarang kita temui
sebuah foto yang sengaja dibuat tanpa ada
bagaian yang tajam dan terang, semuanya
kabur, remang-remang, suram, untuk
mengungkapkan, misalnya, kemuraman atau misteri. Kerja seni memang
sering begitu.
Dari
uraian di atas diharapkan sudah mulai terbentuk gambaran nyata tentang arah dan
tujuan yang ingin kita capai dalam dunia fotografi. Arah dan
tujuan ini akan menentukan kadar usaha yang diperlukan untuk mencapainya tujuan-tujuan tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar